Narasumber Workshop Temu UKMK dan Promosi Sawit Baik 2025 dari kiri ke kanan yaitu Dr. Ir. Luluk Sulistiyo Budi, M.P. (Rektor Universitas Merdeka Madiun), Agus Siswanta (Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, dan UKM Kota Madiun), Helmi Muhansyah (Kepala Divisi UKMK BPDP), dan Qayuum Amri (Pemimpin Redaksi Majalah Sawit Indonesia) sebagai moderator. Kegiatan ini berlangsung di Universitas Merdeka Madiun, Jumat (23 Mei 2025).
Berita Terbaru

110 Pelaku UKM Madiun Semakin Cinta dengan Produk Sawit

Dalam presentasinya, dikatakan Helmi, sawit memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Pada 2024, sawit menyumbang devisa sekitar USD20 miliar menurut data BPS. Ditambah lagi dengan adanya penghematan impor dari program B40.

Helmi juga menekankan bahwa pendanaan BPDP berasal dari pungutan ekspor perusahaan sawit. Dana tersebut kemudian dikelola dan disalurkan untuk berbagai program strategis antara lain promosi sawit, peremajaan sawit rakyat, penyediaan bahan bakar nabati, dan termasuk riset dan pendanaan beasiswa bagi mahasiswa yang meneliti sawit.

BPDP juga aktif mempromosikan pengembangan produk UKM berbahan sawit di seluruh wilayah Indonesia. Produk yang saat ini sudah berkembang diantaranya helm, lidi, kerajinan batik, bolu,dan produk bernilai tambah lainnya,” tuturnya.

Rektor Universitas Merdeka Madiun, Dr. Ir. Luluk Sulistiyo Budi, M.P., mengatakan kelapa sawit memiliki banyak produk turunan bernilai tinggi. Di sektor pangan, sawit dapat diolah menjadi margarin, shortening (lemak padat untuk roti dan kue), serta bahan makanan lain. Sementara itu, di sektor non-pangan, minyak sawit digunakan untuk membuat kosmetik, sabun, detergen, obat-obatan, hingga plastik biodegradable yang ramah lingkungan.

Minyak sawit mengandung Vitamin E dan karotenoid yang merupakan antioksidan penting untuk kosmetik dan produk farmasi,” ujar Luluk.

Terkait produk UKM dari sawit juga disampaikan oleh Luluk bahwa pelaku usaha kecil sebaiknya tidak hanya berperan sebagai pemasar, tetapi juga mulai memproduksi sendiri produk-produk turunan sawit.

Produk sawit tidak hanya prospektif, tapi juga solutif untuk pengembangan industri lokal,” tegasnya.

Pendiri Smart Batik Indonesia, Miftahudin Nur Ihsan, mengatakan telah memproduksi batik yang berbahan malam (lilin) sawit. Inovasi ini mengurangi penggunaan lilin tradisional (parafin) dengan malam dari sawit yang bertujuan memanfaatkan sumber daya dari dalam negeri, ramah lingkungan, dan mendukung pembatik Indonesia.

Kami telah melakukan pembuatan 101 motif batik sawit dalam waktu 4 minggu. Selain itu juga telah mendapatkan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual,” tambah Ihsan.