CEO PT Interstisi Material Maju, Andika Kristinawati, mengatakan bahwa helm sawit telah terjual puluhan ribu unit sejak 2017 di seluruh wilayah Indonesia. Bahkan, ada penjualan selama 3 bulan mencapai 5.000 unit. “Keunggulan helm ini termasuk produk bio composite serta berpenguat serat alam. Selain itu, juga berkontribusi dalam pengurangan limbah dan hasil ujinya lebih bisa meredam benturan,” kata Andika menjelaskan keunggulan helm GC ini.
Saat ini, masih banyak inovasi yang dilakukan peneliti IPB yang sudah berwujud seperti rompi anti peluru, benang pilin, hingga filter air conditioner (AC) mobil. Ketua Pelaksana Workshop Jurnalistik Industri Hilir Sawit 2025, Qayuum Amri, menjelaskan bahwa kunjungan jurnalis ke PT Interstisi Material Maju merupakan bagian dari kegiatan Workshop Jurnalis Industri Hilir Sawit yang dapat mengedukasi jurnalis supaya mengenal dan mengetahui produk turunan sawit yang bernilai tambah tinggi dan bermanfaat langsung bagi masyarakat.
Dalam kunjungan ini, dikatakan Qayuum, jurnalis dapat belajar dan mengetahui proses pembuatan helm dari limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) di fasilitas produksi PT Interstisi Material Maju. Limbah TKKS tersebut dapat dijadikan serat yang menjadi bahan dasar pembuatan helm sehingga produk ini lebih ramah lingkungan dan mendukung tata kelola sawit berkelanjutan. “Kami ucapkan terima kasih kepada PT Interstisi Material Maju yang mau berbagi ilmu dan informasi kepada rekan-rekan jurnalis,” ujarnya.
Melalui kunjungan ini, diungkapkan Qayuum, membuktikan bahwa program riset sawit BPDP sukses menghasilkan produk end user dan berskala komersial. “Kini telah terbukti bahwa hasil riset sawit tidak hanya disimpan dalam lemari melainkan dapat diaplikasikan membantu masyarakat dan dunia industri,” pungkasnya.


