Meski Kabupaten Banyumas bukan daerah penghasil sawit, Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, dan UKM Banyumas Wahyu Dewanto mengatakan bahwa potensi pemanfaatan produk turunan sawit tetap besar karena digunakan pelaku UKM bidang usaha kuliner, kerajinan, dan suvenir.
“Di sini tidak ada sawit, tapi banyak produk turunan yang menggunakan sawit. Itulah relevansinya. Pasar produk sawit ini sangat luas,” ucap Wahyu saat membuka acara.
Wahyu menambahkan bahwa Dinas Tenaga Kerja Banyumas terus membuka ruang kolaborasi, termasuk pelatihan, pembinaan usaha, hingga fasilitasi akses pembiayaan.
“Jika ada pelatihan khusus olahan sawit, kami siap memfasilitasi. Kami juga memiliki skema pinjaman bergulir berbunga rendah hanya 2 persen per tahun. UKM cukup punya NIB untuk mengaksesnya,” jelasnya.
Wahyu berharap agar workshop menjadi titik awal pembentukan jejaring strategis antara media, UKM, pemerintah, dan industri sawit dalam memperkuat hilirisasi, memperluas akses pasar, dan mendorong daya saing UKM sawit lokal menuju Indonesia Emas 2025.
“Kami mengapresiasi event ini karena melibatkan media yang menjadi sarana promosi produk UKM Sawit serta mengedukasi masyarakat berkaitan manfaat sawit,” urainya.
Kepala Divisi UKMK BPDP, Helmi Muhansyah, menekankan bahwa industri sawit masih menjadi salah satu penopang pendapatan negara yang paling stabil. Indonesia, sebagai produsen sawit terbesar di dunia, kerap mendapat tekanan dari kampanye negatif di Eropa, mulai dari isu deforestasi hingga eksploitasi tenaga kerja.
“Berita bohong yang disampaikan terus-menerus bisa dianggap sebagai kebenaran. Itu seperti teori propaganda Goebbels. Karena itu, kita harus melawannya dengan fakta,” ujarnya.
BPDP kini menjadikan persepsi publik sebagai indikator kinerja utama (KPI). Penilaian publik terhadap sawit, biodiesel, hingga peran BPDP menjadi tolok ukur keberhasilan program. “Semakin baik persepsi publik, semakin baik pula nilai kami. Karena itu, kami aktif menggelorakan kebaikan sawit,” tegasnya.
Helmi memaparkan bahwa ragam inovasi turunan sawit kini makin luas—mulai dari rompi, batik sawit, hingga balsam dan produk kecantikan. Ia mencontohkan salah satu perajin batik di Yogyakarta yang omzetnya ratusan juta per bulan, melonjak menjadi miliaran setelah menggunakan bahan berbasis sawit.


