Perkebunan

EUDR di Persimpangan Jalan: Saatnya Uni Eropa Memilih Keberanian, Keadilan, dan Suara Petani Kecil

Keputusan Eropa bulan ini akan bergema jauh melampaui Brussels. Ia akan terdengar di desa-desa kecil di Sumatera, di koperasi perempuan di Kalimantan, di petani kakao di Ghana, hingga ke petani kopi di Kolombia. Inilah momen penentu. Dan dunia sedang menyaksikan apakah Eropa memilih jalan yang adil, atau sekadar jalan yang terlihat hijau dari jauh.

Penutup: Jangan Biarkan Transisi Hijau Menjadi Proyek Elitis yang Melupakan Akar Rumput

Kisah EUDR selama dua tahun terakhir memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar regulasi komoditas. Ia memperlihatkan betapa rentannya arsitektur keberlanjutan global ketika dibangun hanya dari satu sudut pandang, dari satu pusat kekuasaan, dari satu cara membaca dunia.

Dan ketika fondasi itu mulai retak, yang pertama kali terdengar adalah suara-suara yang selama ini diabaikan, yaitu suara petani kecil yang bangun sebelum matahari terbit, suara perempuan di perkebunan yang menjaga ekonomi keluarga, suara anak muda di desa yang ingin masa depan lebih baik tanpa harus meninggalkan tanah kelahiran mereka.

Merekalah yang paling terdampak ketika EUDR dirancang tanpa empati.  Merekalah yang akan tersingkir jika keberlanjutan hanya dihitung dari layar komputer jauh di Brussel. Merekalah yang paling kehilangan jika transisi hijau berubah menjadi proyek elitis.

Tetapi krisis EUDR ini memberi dunia kesempatan langka, yaitu  kesempatan untuk memperbaiki arah. Kesempatan untuk membuktikan bahwa keberlanjutan tidak harus menjadi benturan antara Utara dan Selatan.  Kesempatan untuk menunjukkan bahwa dunia mampu membangun aturan global yang berkeadilan, yang tidak menyingkirkan, yang tidak mengorbankan mereka yang paling rapuh.

Dan Indonesia, dengan seluruh perjalanan reformasinya, ISPO, STDB, dashboard legalitas, moratorium, hingga kepemimpinan diplomatic, berada pada posisi yang tepat untuk mengangkat standar etika global ini lebih tinggi. Bukan dengan konfrontasi, tetapi dengan kejelasan moral.  Bukan dengan retorika kosong, tetapi dengan bukti dan pengalaman nyata.
Bukan dengan menunggu, tetapi dengan memimpin.