Jakarta, KOMODITAS INDONESIA – HIPKI (Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia) mengeluhkan kekurangan pasokan bahan baku menjelang tutup tahun 2024. Minimnya bahan baku kelapa bulat disebabkan derasnya ekspor ke luar negeri. Tak hanya persoalan bahan baku, lonjakan harga kelapa bulat mengakibatkan pelaku industri pengolahan kelimpungan.
“Saat ini, harga kelapa bulat meningkat dua kali lipat. Harga kelapa butir yang tadinya berkisar Rp 6.000 – 8.000 per butir, kini menjadi Rp 12.000 – 14.000. kenaikan harga ini sangat tidak affordable bagi industri,” ujar Anro Simanjuntak, Ketua Bidang Industri Aneka Produk Kelapa HIPKI, dalam jumpa pers yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (18 Desember 2024).
Menurutnya, Kenaikan harga kelapa bulat akan memicu inflasi dan berdampak langsung kepada daya beli. Dampak paling dirasakan adalah masyarakat dan pelaku usaha UMKM sebagai pengguna kelapa, tapi kini terkendala dengan harga tinggi.
Tak hanya itu, kalangan industri skala besar juga mulai merasakan dampak kenaikan harga kelapa bulat. Berdasarkan survei internal HIPKI dari 16 perusahaan pengolahan kelapa rata-rata saat ini hanya beroperasi 33% kapasitas berjalan (running capacity). Apabila pabrik terpaksa tutup (shutdown) dikarenakan tidak ada bahan baku akan berdampak kepada 21.399 pekerja. Asumsikan 1 pekerja memiliki 1 istri dan 2 anak, maka akan berdampak pada 85.596 orang akan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
Dari 8 perusahaan anggota HIPKI apabila beroperasi 100% dari kapasitas terpasang akan menghasilkan nilai ekonomi sebesar 7,2 Triliun, dengan kapasitas berjalan (running capacity) saat ini akan berdampak pada kerugian nilai ekonomi sebesar 4,3 Triliun. Pangsa pasar anggota perusahaan HIPKI mayoritas adalah ekspor (75%). Apabila kondisi kelangkaan bahan baku yang melanda industri pengolahan kelapa terus berlanjut, negara dapat berpotensi kehilangan 75% devisa hasil ekspor industri pengolahan kelapa.
Di sisi lain, kenaikan harga kelapa bulat ini juga meningkatnya ekspor ke luar negeri. Produk kelapa bulat Indonesia menjadi pilihan di tengah turunnya produksi kelapa dunia.”Produksi kelapa turun 60 persen ini fenomena global sehingga membuat harga ikut naik lantaran produksi turun tapi permintaan naik,” kata Anro.


