Dampak Penurunan Produksi Kakao
Penurunan produksi biji kakao di Indonesia tercatat telah menyebabkan turunnya posisi Indonesia dari peringkat ke-4 menjadi peringkat ke-7 produsen kakao dunia. Dampak signifikan juga dirasakan oleh industri pengolahan kakao dan cokelat yang mengalami kekurangan bahan baku.
Untuk mengatasi masalah ini, berbagai langkah telah dilakukan oleh Kemenperin, termasuk inisiasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Program ini diharapkan mendukung pengelolaan sektor kakao dari hulu hingga hilir secara berkelanjutan. Dengan adanya BPDP maka Kemenperin dapat menyusun program swasembada dan kemandirian industri kakao nasional.
Program Cocoa Doctor untuk Peningkatan SDM
Dalam rangka meningkatkan kapasitas petani, program Cocoa Doctor juga diinisiasi. Pada 2024, sebanyak 37 petani telah dilatih di Mars Cocoa Academy menjadi Cocoa Doctor. Para petani ini juga menjalankan pelatihan bagi lebih dari 3.700 petani lainnya melalui metode Training of Trainers (ToT).
Program ini diharapkan mampu memperkuat rantai pasok bahan baku kakao premium secara berkelanjutan.
Komitmen Pengembangan oleh TRACTIONS
Konsorsium TRACTIONS juga telah menunjukkan komitmen dalam mendukung pertanian berkelanjutan. Selama empat tahun terakhir, pelatihan praktik pertanian dan penanganan pascapanen diberikan kepada petani kecil melalui koperasi.
Dukungan pembiayaan juga diterima oleh koperasi, seperti Kopan SIKAP di Flores dan Simultan di Sulawesi Selatan, yang masing-masing memperoleh modal kerja sebesar Rp300 juta pada 2022. Selain itu, koperasi Simultan kembali mendapatkan pembiayaan tambahan pada 2024 melalui lembaga PROGRESO.
Peluang Investasi Baru
Keberhasilan program TRACTIONS turut menarik minat perusahaan global seperti Valrhona untuk berinvestasi di Indonesia. Pada 2025, Valrhona berencana mendirikan perkebunan kakao di Jembrana, Bali, yang diikuti dengan pembangunan pabrik pengolahan cokelat pada 2027.
Selain itu, sebuah pusat edukasi pastry akan dibangun untuk menarik minat gourmet dan chef internasional. Langkah ini diharapkan menjadikan Indonesia sebagai destinasi kakao dan cokelat yang diakui dunia.
Pemberdayaan Komunitas Lokal
TRACTIONS juga berfokus pada pemberdayaan perempuan dan anak muda melalui pelatihan berbasis Gender Action Learning System (GALS). Sebanyak 1.168 perempuan dan anak muda telah dilibatkan dalam berbagai pelatihan yang mendukung pengelolaan bisnis berbasis komunitas.


