Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) telah menyepakati kontrak pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi untuk tahun 2025. Penandatanganan kontrak tersebut dilaksanakan lebih awal, yaitu pada 24 Desember 2024 di Jakarta antara Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) dan PT Pupuk Indonesia, dengan target distribusi mulai 1 Januari 2025. Langkah ini diambil untuk memastikan ketersediaan pupuk saat musim tanam pertama, periode krusial bagi petani.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjelaskan bahwa kontrak ini adalah bagian dari upaya perbaikan tata kelola pupuk bersubsidi yang selama ini menjadi kendala bagi petani. Kementan berkomitmen untuk menyediakan pupuk bersubsidi dengan efisien, guna mendukung produktivitas sektor pertanian dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan konflik geopolitik.
Jenis pupuk yang disalurkan mencakup Urea, NPK, NPK Formula Khusus, dan Organik, dengan total alokasi mencapai 9,55 juta ton sesuai Kepmentan 644/2024. Distribusi akan menggunakan sistem e-RDKK untuk memastikan pupuk tersalurkan kepada petani yang benar-benar terdaftar. Selain itu, petani dengan luas lahan di bawah dua hektare, termasuk petani dari Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), diprioritaskan untuk mendapatkan subsidi ini.
Menurut Jekvy Hendra, Direktur Pupuk dan Pestisida, perubahan tata kelola ini mempermudah akses petani terhadap pupuk bersubsidi. Setelah terdaftar, petani cukup datang ke kios pengecer atau melalui gapoktan dengan membawa KTP atau kartu Tani untuk memperoleh pupuk. Proses ini juga dapat diwakilkan kepada keluarga atau kelompok tani, sehingga lebih fleksibel bagi petani yang sedang berhalangan.
Jekvy Hendra mengungkapkan bahwa percepatan ini menjadi langkah bersejarah karena kontrak ditandatangani sebelum tahun anggaran dimulai, berbeda dari kebiasaan sebelumnya yang dilakukan pada bulan Maret. Direktur Pemasaran PT Pupuk Indonesia, Tri Wahyudi Saleh, menambahkan bahwa hingga saat ini stok pupuk nasional mencapai 1,4 juta ton dan sekitar 400.000 sudah tersedia di distributur dan kios.


