Perkebunan

Menteri PPN Luncurkan Sekolah Kopi Nusantara di INSTIPER Yogyakarta, Dorong SDM Kopi dari Hulu hingga Hilir

Bangun Ekosistem Pendidikan Kopi

Sekolah Kopi Nusantara dirancang dengan menghubungkan jalur pendidikan nonformal dan formal. Melalui mekanisme Recognition of Prior Learning (RPL), kompetensi yang diperoleh peserta melalui pendidikan nonformal dapat diakumulasi dan direkognisi untuk dilanjutkan ke pendidikan formal.

Pada jalur nonformal, SKN memiliki tiga tingkatan program. Pertama, Micro Skill Program selama 3–5 hari. Kedua, Applied Coffee Skills selama 10–12 hari. Ketiga, Professional Coffee Academy selama 10–12 minggu.

Ketiga program tersebut berbasis kompetensi dengan pembelajaran yang menitikberatkan praktik. Komposisinya dirancang sekitar 25 persen teori dan 75 persen praktik, sehingga peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat diterapkan di lapangan.

Sementara jalur formal dikembangkan secara berjenjang melalui D1 AKPY STIPER, D3 Politeknik Industri Perkebunan (PIP STIPER), hingga S1 INSTIPER.

Model tersebut memungkinkan peserta mengembangkan kompetensi secara bertahap, mulai dari operator terampil dan supervisor unit hingga menjadi analis, perancang, serta inovator dalam sistem kopi berkelanjutan.

Dr. Ir. Purwadi menjelaskan, SKN dirancang untuk menjawab kebutuhan SDM perkopian secara menyeluruh.

Sekolah Kopi Nusantara dirancang untuk menjawab kebutuhan pengembangan sumber daya manusia perkopian secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir. Peserta tidak hanya belajar tentang budidaya, tetapi juga pengolahan, mutu, roasting, brewing, barista, hingga bisnis kopi,” jelasnya.

Perkuat Daya Saing Kopi Indonesia

Ekosistem pembelajaran SKN didukung berbagai fasilitas pendidikan dan praktik yang dimiliki YPKPY/INSTIPER. Di antaranya SEAT Ungaran untuk pembelajaran sektor hulu, Pilot Plant Pengolahan Hasil Perkebunan untuk pengolahan dan pengembangan mutu, serta INSTIPER Lab Coffee untuk pembelajaran sektor hilir, seperti brewing, espresso, sensori, layanan, dan bisnis kopi.

Kurikulum SKN juga mengikuti rantai nilai kopi secara utuh, mulai dari Fondasi Kopi Nusantara dan Profesionalisme, Agroekosistem dan Pembentukan Kebun, Produksi Kopi Berkelanjutan, Panen dan Pengolahan Pascapanen, Mutu dan Traceability, Roasting dan Sensori, Brewing dan Espresso, Barista dan Operasi Layanan, Bisnis dan Rantai Nilai Kopi, hingga Immersi Industri dan Proyek Akhir.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *