Jakarta, KOMODITAS INDONESIA – Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki, karena sangat menentukan kesehatan dan kecerdasannya. Dalam jangka panjang, kekurangan pangan di suatu negara akan mewariskan generasi yang lemah, kurang cerdas, dan tidak produktif. Dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) semacam ini, tidaklah mungkin sebuah bangsa bisa maju dan Sejahtera.
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI Prof. Rokhmin Dahuri, dalam pembukaan Focus Group Discussion (FGD) Panen News dengan tema “Pangan Berdaulat, Nusantara Kuat” di Jakarta, 27 Februari 2024.
“Karena itu sangat tepat bila Presiden RI pertama, Dr. Ir. Soekarno, saat berpidato pada peletakan batu pertama pembangunan Gedung Fakultas Pertanian UI di Bogor pada 27 April 1952 melontarkan pernyataan profetik, bahwa ‘Urusan Pangan adalah Hidup-Matinya Sebuah Bangsa’,” kata Rokhmin.
Pernyataan itu kemudian terlegitimasi oleh hasil penelitian FAO (2000) yang mengungkapkan, bahwa negara dengan penduduk lebih dari 100 juta orang akan sulit atau tidak mungkin bisa maju, makmur, dan berdaulat, bila kebutuhan pangannya bergantung pada impor.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia saat ini? Indonesia masih mempunyai potensi produksi pangan yang besar untuk swasembada dan feeding the world. Sebagai negara maritim dan agraris tropis terbesar di dunia dengan lahan darat dan perairan yang subur, mestinya Indonesia bukan hanya dapat berswasembada pangan, tetapi juga menjadi pengekspor pangan ke seluruh dunia – feeding the world.
Namun, kinerja sektor pangan kurang baik akibat adanya berbagai tantangan yang ada. Padahal, pangan merupakan kebutuhan dasar manusia karena menentukan kesehatan dan kecerdasan.
“Ironisnya, alih-alih berdaulat pangan, Indonesia justru memiliki indeks ketahanan pangan yang rendah, semakin bergantung pada pangan impor, dan mayoritas petani serta nelayannya masih miskin. Kita menjadi bangsa pengimpor pangan terbesar di dunia,” kata Rokhmin.
Lebih lanjut, ia menguraikan, bahwa setiap tahun Indonesia mengimpor sedikitnya 3 juta ton beras, 5 juta ton gula, 1,5 juta ton kedelai, 2,3 juta ton jagung, 8 juta ton gandum, 0,5 juta ton bawang putih, 1 juta ekor sapi, dan 2,8 juta ton garam. Sekitar 70 persen buah-buahan yang beredar di pasar-pasar di nusantara berasal dari impor.


