“Yang belum dibicarakan adalah siapa sebenarnya orang-orang yang bisa memajukan sawit supaya sawit bisa berkembang dan menjadi nomor satu di dunia. Itu yang sering kita lupakan. Dan di antara orang-orang itu adalah salah satunya Bapak Sahat Sinaga,” ungkapnya.
Rahmat juga menyinggung gagasan Sahat terkait sawit merah yang telah diperkenalkan sejak 1993. Menurutnya, jika pemikiran tersebut diikuti secara konsisten, Indonesia berpeluang menjadi pemimpin global tidak hanya di sektor sawit, tetapi juga industri oleokimia.
“Pada waktu itu Pak Sahat mengenalkan sawit merah, yang telah dibuat sejak 1993. Kelihatannya sederhana, sawit merah. Tapi sebenarnya kalau pada waktu itu kita mengikuti jalan pikiran yang dikembangkan oleh Pak Sahat Sinaga, kita bukan hanya raja sawit. Kita raja oleokimia. Dan kita raja dunia di bidang produk berbasis sawit. Itulah sebenarnya karya nyata yang diharapkan oleh seorang insinyur Teknik Kimia – ITB, (Sahat Sinaga),” imbuhnya.
Apresiasi juga disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, yang hadir mewakili Menteri Perindustrian Agus Gumiwang.
“Kami memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Bapak Sahat Sinaga, karena beliau bisa memetakan potensi nilai tambah dari sawit dan merintis untuk itu. Jadi ini adalah suatu pemikiran yang perlu bersama-sama kita dorong agar ini bisa bisa terwujud. Kalau memang dilakukan dengan terintegrasi terpadu seperti itu, suatu produk itu kan daya saingnya luar biasa,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pengembangan Potensi Sumber Daya Pertahanan, Letjen TNI (Purn) Musa Bangun, menilai pemikiran Sahat Sinaga bersifat visioner dan memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan petani, kesehatan masyarakat, serta pendapatan negara.
Lebih dari sekadar biografi, buku “Dari Loyang Jadi Emas” hadir sebagai manifesto yang mendorong keberanian berpikir berbeda dalam mengelola kekayaan alam. Buku ini menjadi catatan reflektif tentang bagaimana komoditas sawit dapat ditransformasikan menjadi sumber kemakmuran bangsa.


