Kementan Siapkan Jurus Pangkas Impor Kedelai & Bawang Putih Lewat Teknologi Tepat Guna
Peneliti BRIN Kaji Filosofi Penamaan 'Sego' di Masyarakat Jawa
Jakarta, KOMODITAS INDONESIA - Peneliti Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas (PR BSK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dra. Wiwin Erni Siti Nurlina, M.Hum menjelaskan kajian tentang masakan tradisional, khususnya dari masyarakat Jawa, memiliki kedalaman sejarah dan filosofi yang luar biasa. Dalam risetnya, Wiwin menemukan bahwa masakan, terutama makanan pokok seperti nasi atau dalam bahasa Jawa disebut sego, memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat dari lahir hingga meninggal.
“Masakan-masakan seperti sego skopondro, skorulo, skocometin, hingga skobrawong, misalnya, masing-masing punya latar belakang unik yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial dan tradisi lokal," ungkap Wiwin saat menyampaikan paparannya dalam kegiatan Public Lecture tema Indonesian Identity in the Dynamics of Nusantara Cuisine yang diselenggarakan di BRIN Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (11/04).
Menurutnya, makanan bukan sekadar konsumsi, tapi juga sarat makna simbolis, ritual, dan identitas budaya. Dia menyebut bahwa skocometin, yang berasal dari daerah Pati dan hanya disajikan dalam acara khusus, mengandung ikan janjan yang hidup di air payau. Makanan ini memiliki makna sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi kekeringan.
Lebih jauh, Wiwin membagi kategori nama-nama masakan nasi tradisional ke dalam 11 konsep dasar. Pembagian kategori tersebut berdasarkan warna seperti sego kuning dan sego punar. Kategori rasa, bentuk, dan cara memasak, seperti direbus, digoreng, atau dimasak ribet. Kategori sifat masakan seperti sego garingan. Kategori jenis lauk dan cara penyajian seperti sego ambengan, sego tempelan, hingga berdasarkan akronim dan geografi.
Wiwin mencontohkan Sego gandul yang dulunya adalah makanan mewah karena lauknya dari daging sapi. Sedangkan sego garingan biasanya hanya terdiri dari lauk kering tanpa sayur, populer di kalangan anak-anak. Sementara itu, sego wargang berasal dari nasi sisa yang belum basi, kini direkomendasikan untuk penderita diabetes karena kadar gulanya yang lebih rendah.
Dijelaskan Wiwin, ada juga jenis masakan yang penamaannya diambil dari cara penyajian, seperti sego kumpul atau sego ambengan. Kemudian yang digunakan dalam ritual seperti sego asam putih atau sego tumpeng dengan lima warna.
Wiwin mengungkapkan banyak dari masakan tersebut kini mulai langka dan hanya dijumpai di lokasi tertentu. Namun jenis kulineran ini tetap penting untuk dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari pelestarian budaya. "Memahami kuliner tradisional Indonesia bukan hanya soal rasa, tapi juga memahami narasi kehidupan dan struktur sosial masyarakat Jawa yang terkandung di balik setiap sajian," terangnya.
Dijelaskan Wiwin, masyarakat Indonesia saat ini masih belum sepenuhnya memahami asal-usul dan filosofi dari makanan kontemporer yang berkembang, termasuk dari segi rasa maupun penyajian. Menurutnya hal ini bukan terjadi karena penurunan minat terhadap makanan kontemporer, melainkan kurangnya informasi yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Wiwin menyimpulkan, tantangan utamanya adalah belum terintegrasinya penyebaran pengetahuan tradisional dengan teknologi informasi maupun sistem pendidikan. Maka ia berharap agar masakan kontemporer dapat menjadi jembatan dalam mengembangkan industri kreatif kuliner Indonesia. Dengan mengangkat kekayaan lokal, maka menciptakan nilai ekonomi dan memperkuat identitas budaya bangsa.
Sumber: BRIN


