Jakarta – Dua emiten besar di sektor pertambangan, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), memberikan isyarat optimisme terhadap peningkatan produksi nikel meskipun pemerintah sedang mengkaji rencana pemangkasan kuota produksi nikel nasional pada 2025. Hal ini diungkapkan oleh para pemimpin kedua perusahaan dalam beberapa kesempatan.
Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk, Febriany Eddy, menyampaikan bahwa perusahaan sedang difokuskan pada peningkatan efisiensi biaya produksi untuk memaksimalkan pendapatan di tengah fluktuasi harga nikel yang terjadi saat ini. Ditegaskan oleh Febriany bahwa volatilitas harga nikel tidak dapat dihindari, namun efisiensi biaya dijadikan langkah strategis oleh perusahaan. Kepastian juga diberikan bahwa target produksi tahun ini akan ditingkatkan dibandingkan capaian pada 2024.
Febriany menjelaskan bahwa prospek jangka panjang nikel tetap dianggap menarik, terutama dengan momentum transisi energi saat ini. Oleh karena itu, upaya dilakukan agar produktivitas tahun ini lebih tinggi dari tahun lalu.
Sinyal peningkatan produksi nikel juga diberikan oleh PT Aneka Tambang Tbk. Direktur Utama ANTM, Nico Kanter, mengungkapkan bahwa harapan disampaikan kepada pemerintah untuk memberikan kuota produksi yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut Nico, revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sedang diajukan untuk mendukung target produksi yang lebih tinggi. Ditambahkan olehnya bahwa kinerja keuangan ANTM hingga akhir 2024 dianggap cukup baik, didukung oleh reli harga emas sepanjang tahun lalu.
Nico menjelaskan bahwa revisi RKAB yang diajukan diharapkan dapat disetujui sehingga target produksi dapat tercapai lebih tinggi. Namun, terkait target kinerja tahun ini, keputusan final dari pemerintah masih ditunggu.
Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mengkaji rencana pemangkasan kuota produksi bijih nikel menjadi 150 juta ton pada 2025, jauh di bawah realisasi produksi 2024 yang mencapai 272 juta ton. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa langkah ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga nikel global yang masih tertekan setelah mengalami penurunan sebesar 45% pada 2023.


