“Pameran SIAL Interfood ke-25 di Jakarta diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi perdagangan mamin Indonesia, meningkatkan jaringan, dan memperluas pasar ekspor. Hal tersebut guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Wamendag Roro.
Kementerian Perdagangan, lanjut Wamendag Roro, berkomitmen untuk mendukung UMKM dalam menembus pasar internasional melalui tiga program utama. “Pertama, inisiatif ini menekankan pada perlindungan pasar domestik yang meliputi pemanfaatan pasar, penyelesaian sengketa perdagangan, dan pengawasan perdagangan yang berkelanjutan. Kedua, perluasan pasar ekspor dengan meningkatkan diplomasi perdagangan internasional. Terakhir, upaya untuk mendorong peningkatan daya adaptasi dan inovasi UMKM yang dikenal dengan UMKM Berani Inovasi Siap Adaptasi (BISA) Ekspor,” ungkapnya.
Program UMKM BISA Ekspor bertujuan meningkatkan kapasitas adaptasi dan inovasi UMKM melalui kebijakan ekosistem ekspor yang mendukung, pembentukan pusat ekspor di luar Pulau Jawa, serta optimalisasi perwakilan dagang untuk mempromosikan produk UMKM secara efektif.
Lebih lanjut, Wamendag Roro menyampaikan bahwa 99% unit usaha di Indonesia adalah UMKM, yang menyumbang 60,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 97% tenaga kerja. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, surplus perdagangan Indonesia telah berlangsung selama 53 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Tren positif ini terus berlanjut hingga September 2024, menghasilkan surplus sebesar USD 21,98 miliar, dengan kontribusi utama dari sektor nonmigas yang mencapai USD 37,03 miliar. Hal ini memperkuat optimisme terhadap peningkatan ekspor nonmigas di tahun 2024.
Sektor makanan dan minuman juga menunjukkan pertumbuhan positif selama lima tahun terakhir, dengan peningkatan sebesar 6,8% dan total nilai ekspor sebesar USD 5,2 miliar pada 2023. Produk makanan dan minuman Indonesia kini telah diekspor ke berbagai negara, antara lain Amerika Serikat, Filipina, Malaysia, Tiongkok, dan Thailand.
Sumber: kemendag.go.id


