Kementan Siapkan Jurus Pangkas Impor Kedelai & Bawang Putih Lewat Teknologi Tepat Guna
Kementan Siapkan Jurus Pangkas Impor Kedelai & Bawang Putih Lewat Teknologi Tepat Guna
Jakarta, KOMODITAS INDONESIA - Kementerian Pertanian (Kementan) terus mengakselerasi pembenahan sektor pangan nasional. Lewat duet kepemimpinan Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet, pemerintah siap menggenjot transformasi pertanian tradisional menuju sistem modern berbasis teknologi dan riset.
Langkah ini diambil guna mengejar dua sasaran utama: mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan sekaligus melipatgandakan kesejahteraan petani Indonesia.
Wamentan Alim Setiawan menegaskan bahwa kunci utama perubahan skala besar di sektor pertanian terletak pada inovasi tepat guna. Dengan penerapan teknologi modern, produktivitas lahan diyakini mampu melonjak drastis hingga melampaui rekor-rekor sebelumnya.
“Pertanian modern hanya bisa dilakukan dengan inovasi, riset, dan teknologi tepat guna. Melalui model yang terus dikembangkan, produktivitas panen sangat menjanjikan bisa di atas 10 ton per hektare, bahkan lebih. Jika ini konsisten, swasembada pangan kita akan jauh lebih kokoh,” ujar Alim saat memberikan arahan di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Rabu (21 Oktober 2026).
Selain menjaga benteng swasembada beras nasional, Kementan memberi perhatian ekstra pada komoditas strategis yang selama ini masih bergantung pada pasokan luar negeri, khususnya kedelai dan bawang putih.
Alim menyebutkan, pihaknya akan fokus mengawal perluasan areal tanam (ekstensifikasi), penggunaan benih varietas unggul, serta standardisasi prosedur budidaya agar ketergantungan Indonesia terhadap impor kedua komoditas tersebut bisa ditekan secara signifikan.
Untuk mengeksekusi agenda besar ini, Kementan tidak berjalan sendiri. Pemerintah merangkul perguruan tinggi serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) agar hasil penelitian akademis tidak berhenti sebagai dokumen laboratorium, melainkan langsung diterapkan di lahan-lahan milik petani.
"Orientasi kita pada kedelai dan bawang putih adalah bagaimana mengurangi impor. Ini butuh kolaborasi erat antara Kementan, peneliti, dan perguruan tinggi agar inovasinya menjawab kebutuhan riil petani di lapangan," tambahnya.
Sementara itu, Mentan Amran Sulaiman menegaskan bahwa modernisasi dari hulu ke hilir—seperti optimalisasi lahan, pemanfaatan pompanisasi, hingga penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) modern—merupakan kunci utama menurunkan biaya produksi (cost efficiency) petani.
Dengan efisiensi biaya dan hasil panen yang berlipat ganda, pendapatan petani dipastikan ikut terangkat naik.
"Transformasi menuju pertanian modern adalah langkah krusial. Dukungan riset dan kampus sangat kita perlukan untuk memastikan setiap program pemerintah memberikan dampak nyata yang dirasakan langsung oleh petani," pungkas Amran.


