Kementan Siapkan Jurus Pangkas Impor Kedelai & Bawang Putih Lewat Teknologi Tepat Guna
Peluncuran Buku "Dari Loyang Jadi Emas", Kisah Sahat Sinaga Dorong Nilai Tambah Sawit Indonesia
Jakarta, KOMODITAS INDONESIA – Buku berjudul Dari Loyang menjadi Emas: Kisah Sahat Sinaga dan Perjuangan Membuat Sawit Indonesia Lebih Bernilai resmi diluncurkan di Jakarta pada Rabu (15 April 2026). Karya ini mengulas perjalanan hidup dan kontribusi Sahat Sinaga, insinyur kimia lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam mendorong komoditas sawit Indonesia agar memiliki nilai tambah, baik dari sisi kualitas maupun ekonomi.
Buku setebal 230 halaman tersebut disusun dari gagasan dan pemikiran Sahat Sinaga terkait upaya meningkatkan nilai sawit nasional. "Minyak sawit adalah anugerah Tuhan. Kompisisinya persis seperti air susu ibu, vitamin E-nya seribu kali lebih tinggi dari minyak zaitun. Tapi kita salah mengelolanya," tulis Sahat dalam pembuka buku tersebut.
Melalui buku ini, pembaca diajak menelusuri perjalanan karier pria kelahiran Sumatera Utara itu di industri sawit, sekaligus memahami pandangan kritisnya terhadap pengelolaan sektor tersebut di Indonesia.
"Sawit bukan sekedar minyak. Ia emas yang menghidupi, menguatkan tubuh, melahirkan generasi yang Tangguh, membangun rumah dan menyehatkan tanah. Mari kita kembalikan sawit, dari Loyang jadi Emas, utuh dan bermakna, untuk anak-anak Indonesia," tulis Sahat pada bagian awal buku.
Ditulis oleh tiga penulis dan diterbitkan oleh Milestone, buku ini diharapkan mampu menginspirasi generasi muda untuk melihat industri sawit sebagai sektor strategis yang berpotensi memberikan nilai tambah besar bagi masyarakat dan negara jika dikelola secara optimal.
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Dr. Rahmat Pambudy, mengapresiasi kehadiran buku tersebut yang mengangkat sosok Sahat Sinaga sebagai tokoh penting di industri sawit nasional.
"Sahat M. Sinaga, seorang teknokrat, seorang pejuang, sekaligus salah satu bapak sawit Indonesia yang bisa jadi penutan persawitan Nusantara," ujarnya.
Ia menilai peluncuran buku ini menjadi momen penting, mengingat selama ini pembahasan tentang sawit lebih banyak berfokus pada aspek pengembangan dan hilirisasi, sementara peran individu di balik kemajuan sektor tersebut kerap terabaikan.
"Yang belum dibicarakan adalah siapa sebenarnya orang-orang yang bisa memajukan sawit supaya sawit bisa berkembang dan menjadi nomor satu di dunia. Itu yang sering kita lupakan. Dan di antara orang-orang itu adalah salah satunya Bapak Sahat Sinaga," ungkapnya.
Rahmat juga menyinggung gagasan Sahat terkait sawit merah yang telah diperkenalkan sejak 1993. Menurutnya, jika pemikiran tersebut diikuti secara konsisten, Indonesia berpeluang menjadi pemimpin global tidak hanya di sektor sawit, tetapi juga industri oleokimia.
"Pada waktu itu Pak Sahat mengenalkan sawit merah, yang telah dibuat sejak 1993. Kelihatannya sederhana, sawit merah. Tapi sebenarnya kalau pada waktu itu kita mengikuti jalan pikiran yang dikembangkan oleh Pak Sahat Sinaga, kita bukan hanya raja sawit. Kita raja oleokimia. Dan kita raja dunia di bidang produk berbasis sawit. Itulah sebenarnya karya nyata yang diharapkan oleh seorang insinyur Teknik Kimia – ITB, (Sahat Sinaga)," imbuhnya.
Apresiasi juga disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, yang hadir mewakili Menteri Perindustrian Agus Gumiwang.
"Kami memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Bapak Sahat Sinaga, karena beliau bisa memetakan potensi nilai tambah dari sawit dan merintis untuk itu. Jadi ini adalah suatu pemikiran yang perlu bersama-sama kita dorong agar ini bisa bisa terwujud. Kalau memang dilakukan dengan terintegrasi terpadu seperti itu, suatu produk itu kan daya saingnya luar biasa," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pengembangan Potensi Sumber Daya Pertahanan, Letjen TNI (Purn) Musa Bangun, menilai pemikiran Sahat Sinaga bersifat visioner dan memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan petani, kesehatan masyarakat, serta pendapatan negara.
Lebih dari sekadar biografi, buku "Dari Loyang Jadi Emas" hadir sebagai manifesto yang mendorong keberanian berpikir berbeda dalam mengelola kekayaan alam. Buku ini menjadi catatan reflektif tentang bagaimana komoditas sawit dapat ditransformasikan menjadi sumber kemakmuran bangsa.


