Kementan Siapkan Jurus Pangkas Impor Kedelai & Bawang Putih Lewat Teknologi Tepat Guna
SPHP Berlanjut Tanpa Jeda, Pemerintah Jamin Pasokan Beras Stabil di Awal 2026
Jakarta, KOMODITAS INDONESIA – Pemerintah memastikan Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk komoditas beras tetap berlanjut tanpa jeda di awal 2026. Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Perum Bulog menjamin ketersediaan beras SPHP tetap terjaga di pasar modern, ritel, maupun pasar tradisional, sehingga mudah diakses masyarakat.
Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy, mengatakan bahwa penyaluran beras SPHP tahun 2025 masih berlangsung hingga 31 Januari 2026 melalui skema Rekening Penampungan Akhir Tahun Anggaran (RPATA). “Tidak ada jeda penyaluran. Beras SPHP tahun 2025 masih dapat diperpanjang sampai 31 Januari 2026,” kata Sarwo dalam telewicara di Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Setelah periode tersebut berakhir, pemerintah sudah menyiapkan kuota baru. “Mulai Februari sudah ada alokasi SPHP beras untuk 2026 sebesar 1,5 juta ton sepanjang tahun. SPHP senantiasa hadir sebagai pilihan konsumsi terjangkau bagi masyarakat,” ujarnya.
Dampak Harga dan Proyeksi Panen
Konsistensi penyaluran SPHP menjadi faktor penting dalam menekan harga beras umum di pasar. Panel Harga Pangan Bapanas mencatat harga rata-rata beras medium mulai menunjukkan penyesuaian meski masih bergerak dekat Harga Eceran Tertinggi (HET).
Pemerintah meyakini tren harga akan semakin stabil seiring meningkatnya produksi dalam negeri. Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026, produksi beras diperkirakan mencapai 1,79 juta ton pada Januari dan 2,98 juta ton pada Februari. Puncak panen raya diprediksi terjadi pada Maret dan April, masing-masing dapat menembus 5 juta ton.
Dalam fase panen raya tersebut, penyaluran SPHP akan dilakukan lebih selektif untuk menyesuaikan dinamika pasokan dan harga di lapangan.
Tahun ini Bapanas tengah mematangkan pembaruan petunjuk teknis SPHP. Salah satu poin penting adalah peningkatan batas pembelian, dari sebelumnya maksimal 2 pak atau 10 kg per konsumen menjadi rencana 5 pak atau 25 kg.
“SPHP sudah dibuka untuk semua masyarakat, di pasar modern, pasar tradisional, hingga instansi yang menjalankan program SPHP. Saat ini produk juga tersedia di ritel modern,” jelas Sarwo.
Ia mengimbau masyarakat mencoba beras SPHP sebagai alternatif yang ekonomis. “Kualitasnya setara beras medium dan harganya lebih murah. Jika menemui kualitas yang tidak sesuai, silakan laporkan untuk penggantian,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya produksi dan serapan beras untuk menjaga program stabilisasi.
“Tanaman Oktober–Desember lebih tinggi 500 ribu hektare dibanding tahun lalu. Artinya produksi tahun ini, insya Allah, bisa lebih besar. Serapan Bulog kuat, penyaluran SPHP jadi lebih leluasa,” kata Amran.
Ia menegaskan pentingnya koordinasi lintas rantai. “Kita harus kompak dari hulu sampai hilir. Produksi kuat, pengelolaan berjalan, penyerapan maksimal. Ini kunci menjaga swasembada dan melangkah ke tahap berikutnya,” ujarnya.
Berkat perpanjangan penyaluran hingga akhir Januari, realisasi penjualan beras SPHP 2025 meningkat sekitar 10 ribu ton pada awal Januari. Per 12 Januari 2026 realisasi tercatat mencapai 813 ribu ton, setelah kembali dikebut sejak 5 Januari 2026.
Dengan kombinasi suplai yang aman, distribusi yang konsisten, dan proyeksi panen yang tinggi, pemerintah optimistis stabilisasi harga beras dapat terus terjaga sepanjang tahun ini.


